Tampilkan postingan dengan label kerajinan kuningan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerajinan kuningan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

Mengenal Pembuatan Kerajinan Tembaga

Kerajinan tembaga dan kerajinan kuningan memiliki daya tarik tersendiri bagi peminatnya. Tembaga dan kuningan diolah menjadi berbagai kerajinan seperti tempat lampu, asbak atau hiasan untuk interior rumah lainnya. Proses pembuatannya yang tidak mudah, dan menggunakan tangan membuat harga jualnya menjadi tinggi.


kerajinan tembaga


Kerajinan tembaga melalui beberapa tahap yang panjang, baik itu dari proses penempaan, pemahatan/pengukiran dan tahap finishing. Semua dilakukan agar produk kerajinan tembaga yang dihasilkan juga maksimal dan bernilai seni tinggi.

Berikut proses dan tahap pembuatan dari kerajinan tembaga:

- Penempaan besi kuningan dari lempengan menjadi bentuk, proses ini membutuhkan tenaga yang cukup besar, karena biasanya menggunakan tenaga manusia untuk menempa lemmpengan menjadi sebuah tempat, apakah keramik atau bentuk lain

- Setelah di bentuk, tembaga kemudian dipahat dan diukir, prosesnya cukup sulit karena tembaga memiliki tingkat kekerasan yang jauh berbeda dibandingkan dengan kayu

- Setelah ukiran jadi, selanjutnya tahap finishing, yang termasuk disni adalah memperhalus dengan amplas dan pengecatan tembaga dan akhirnya tahap penjemuran.

Dengan mengenal proses pembuatannya, kita baru bisa menghargai nilai dari sebuah kerajinan tembaga yang bernilai tinggi.(wk)

Info Terkait: Kerajinan Flanel

Kamis, 18 Maret 2010

Tahap Tahap Produksi Kerajinan Tembaga



Kerajinan Tembaga tumang merupakan satu-satu nya kerajinan dengan sistem hammered pattern di indonesia atau bahkan dunia. Sistem tehnik dalam pengerjaan kerajinan juga sangat unik. Dari bahan baku plat lembaran tembaga/kuningan, pertama di mal pola.

Untuk tahapan ini pengrajin biasanya menerapkan ukuran detailnya. Untuk tahapan berikutnya, bahan yang sudah di mal/pola, lalu bahan plat di bakar hingga merah, adapun tujuan pembakaran tersebut untuk melenturkan bahan plat tembaga agar bisa di kenteng/hammered.Pengelasan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi kerajinan Tembaga manufaktur. Proses manufaktur lainnya yang telah dikenal antara lain proses-proses pengentengan (metal Hammered), pembentukan (metal forming), pemesinan (machining), dan Finishing Warna(Finshing colour ). Setelah proses diatas selanjutanya bahan yang telah di dinginkan lalu masuk dalam tahapan pengelasan. Pada tahapan ini bahan yang telah dimall akan disambung dengan las sesuai dengan ukuran pada pola yang akan di bentuk. Adapun proses selanjutnya masuk pada tahapan pengentengan atau hammered bentuk sesuai dengan pola awal, misalnya berbentuk vas, washtavel, bath tube, dll.

Dalam proses ini pengentengan ada dua tehnik, yaitu buko(pengetengan melebar) dan ngimpes (pengentengan kedalam ). Adapun alat yang di gunakan adalah pukul/hammer dan alasnya besi rel kereta api. Bentuk modelnya sudah jadi seperti pola di awal. Setelah tahapan ini selesai, proses selanjutnya adalah pattern hammered atau menextur bentuk sesuai keinginan. Ada beberapa pattern texture yaitu babaran(sarang lebah), cacahan(paku jatuh), acakan, texture jeruk dan masih banyak lagi.

Setelah proses penexturan maka tahapan selanjutnya masuk pada tahapan finishing bentuk. Yaitu pengamplasan dan pemolesan. Di sinilah proses krusial dimana kualitas barang ditentukan. Perlu skill dan kesabaran yang tinggi dalam pengampalasan dan pemolesan ini karena sangat mempengaruhi seni dan kualitas barang. Adapun amplas yang digunakan dari amplas kasar hingga halus. Sedangkan untuk pemolesan menggunakan batu hijau dan bensin/minyak tanah untuk menghasilkan warna yang shinny.

Setelah proses di atas selesai, selanjutannya proses penjemuran dan proses coating/pelapisan pada tahapan ini Proses coating ada dua pilihan yaitu doff dan shinny. Ini tergantung pemesan. Dalam tahapan ini kami menggunakan sistem semprot kompresor adapun coating yang kami pilih yaitu sikkens untuk shinny dan petelac untuk yang glossy dan doff. Untuk komposisi takaran campuran nya yaitu 3 banding 2 (3 clear, 2 hairdenerr dan 3 thinner), sehingga menghasilkan lapisan yang kuat, mengingat sifat tembaga itu oksidan. Dengan demikian maka barang Kerajinan Tembaga yang di hasilkan kuat terhadap cuaca, baik panas matahari maupun air hujan. Sehingga dapat ditaruh di dalam dan luar ruangan.

asta-kriya.com

Rabu, 13 Januari 2010

Kerajinan Tembaga Kurang Dapat Perhatian



Usaha kerajinan tradisional dari tembaga di Desa Gulurejo, Lendah, Kulon Progo, terancam punah. Selama lima tahun terakhir, jumlah perajin tembaga di desa itu turun drastis dari 150 orang menjadi hanya 2 orang.

Kini, perajin tembaga yang tersisa hanya Longgar (40) dan Ngadilan (35). Kedua warga Dusun Mendiro, Gulurejo, itu tetap mempertahankan usaha pembuatan suvenir dari tembaga karena sudah menjadi warisan turun-temurun keluarga.

Jenis souvenir kerajinan tembaga yang dihasilkan Longgar dan Ngadilan antara lain miniatur andong, becak, dan pedati. Selain itu, mereka membuat aksesori penghias sanggul dan bros.

Harga produk bervariasi mulai Rp 5.000 sampai Rp 25.000 per buah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan desain.

"Sejak saya kecil, keluarga sudah membuat kerajinan tembaga. Ini adalah mata pencaharian utama kami," tutur Longgar, saat ditemui di studio kerjanya.


Puncak keruntuhan terjadi pada tahun 2002. Ketika itu, Bali sebagai tujuan utama pemasaran kerajinan tembaga diguncang bom oleh teroris. Seketika itu, jumlah pesanan anjlok.

Sebagian perajin mulai beralih profesi sebagai penambang pasir di Sungai Progo, sementara sebagian yang lain mencoba bertahan dengan membidik pasar lokal. Kerajinan tembaga dipasarkan melalui penjual perak di Kotagede, Yogyakarta.

Akan tetapi, lanjut Ngadilan, semakin lama, usaha jual-beli perak di Kotagede juga makin lesu. Satu per satu perajin tembaga yang tersisa di Lendah mulai banting setir profesi menjadi buruh pabrik atau mengikuti jejak rekan-rekan mereka terdahulu sebagai penambang pasir.

Kurang perhatian

Menurut Longgar, belum ada usaha nyata dari pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali Desa Gulurejo sebagai sentra kerajinan tembaga di Kulon Progo. "Petugas hanya sesekali datang. Tidak ada kelanjutan berupa bantuan modal, padahal harga tembaga naik terus. Sekarang saja sudah Rp 80.000 per kilogram," kata Longgar.

Ayah dua anak itu melanjutkan, jika tidak ada langkah penyelamatan, sentra kerajinan tembaga bisa diambil oleh warga Gunung Kidul. Saat ini, beberapa pedagang perak dan logam di Kotagede mulai memercayakan pengerjaan produk kepada perajin di Wonosari karena biaya tenaga kerja lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Lendah.

cetak.kompas.com